*AL-QURAN TAK LAYAK DIBANDINGKAN DENGAN GAGASAN MANUSIA* Di tengah pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun, setidaknya kita memperoleh hikmah menarik. Betapa luar biasanya sistem pernafasan manusia. Dalam sehari manusia bernafas sekitar 23 ribu kali. Udara yang kita hirup rata-rata 6,3 sampai 13 liter permenit, berarti sekitar 492 sampai 1000 galon perhari. Dalam sistem ini terdapat organ penting, yaitu paru-paru. Organ ini beroperasi sangat menakjubkan tanpa disadari oleh manusia. Semua dirancang dengan sangat detail dan teratur. Masya Allah. Allahlah Yang menciptakan dan mengatur semua itu. Pantaskah manusia sombong? Pantaskah manusia jumawa? Merasa dirinya lebih hebat dari Allah SWT? Jawabannya, tentu sangat tidak pantas. Allah SWT tak sekadar menciptakan manusia dengan seluruh sistemnya. Allah SWT pun menurunkan al-Quran untuk menjadi pedoman dan petunjuk hidup manusia. Al-Quran adalah kalamulLah. Kitab suci yang merupakan firman Allah SWT. Dialah Penguasa alam semesta, manusia (dengan seluruh sistem anatomi dan fisiologisnya) dan kehidupan. Al-Quran bukan buatan manusia, baik Arab maupun non-Arab. Al-Quran juga bukan karangan Nabi Muhammad SAW. Al-Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril yang ditransfer dari generasi ke generasi secara mutawatir. Membaca al-Quran adalah ibadah yang berpahala. Dalam konteks ini, layakkah al-Quran yang merupakan firman Allah SWT dibandingkan dengan gagasan manusia? Layakkah al-Quran yang berisi seperangkat aturan Allah SWT, Pencipta manusia, dibandingkan dengan undang-undang buatan manusia yang merupakan ciptaan-Nya? Jika Anda ditanya, pilih mana al-Quran atau gagasan manusia? Anda pun terus didesak harus memilih salah satu, Anda pilih yang mana? Muslim Pasti Pilih al-Quran Al-Quran adalah petunjuk hidup bagi manusia yang terbebas dari kesalahan, kebatilan dan kontradiksi. Semua isinya benar dan adil. وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Mahatahu (TQS al-An’am [6]: 115). Qatadah mengatakan, maksudnya benar dalam ucapan-Nya dan adil dalam semua keputusan-Nya. Selalu benar dalam pemberitaan dan adil dalam tuntutan. Setiap yang Allah SWT beritakan adalah benar. Tiada keraguan dan kebimbangan padanya. Semua yang Allah SWT perintahkan adalah adil. Tiada keadilan selain keadilan-Nya. Setiap yang Allah SWT larang adalah batil. Sungguh tidak sekali-kali Allah SWT melarang, melainkan karena adanya mafsadat (kerusakan) pada yang Dia larang (Tafsir Ibnu Katsir, 3/322). Manusia sebagai makhluk berada pada kondisi tidak sempurna dan penuh keterbatasan. Sehebat-hebatnya manusia dengan akal dan pikirannya, hasilnya tetap terbatas. Dikatakan, Al-Insân mahall al-khatha` wa an-nisyân (Manusia itu tempat salah dan lupa). Siapa saja yang meyakini dan mengamalkan al-Quran, dia berada di jalan yang lurus, mendapatkan pahala, ridha dan surga-Nya. Sebaliknya, siapa pun yang mengingkari al-Quran berarti kafir. Yang berpaling dari al-Quran tersesat. Yang mengabaikan al-Quran mendapatkan dosa, murka dan neraka. Itulah Al-Quran dalam akidah atau keyakinan Islam. Jadi, kalau ada orang Mukmin ditanya pilih mana al-Quran atau gagasan manusia, jawabannya tegas: pilih al-Quran! Respon yang tegas menunjukkan keyakinan Islam yang kuat dan lurus. Jika ada yang menyatakan respon tegas ini dimaknai kaku, intoleran dan radikal, maka ada persoalan pada mindset orang yang membuat pernyataan tersebut. Ketika sikap tegas lebih memilih al-Quran dianggap sebagai indikator radikalisme, sementara radikalisme dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan membahayakan, itu berarti menuduh al-Quran sebagai sesuatu yang buruk dan membahayakan. Hal demikian dapat dimaknai penistaan terhadap al-Quran. Wa al-‘iyâdz bilLâh. Sungguh sangat disesalkan. Bagaimana bisa ada orang yang mengaku beragama Islam, namun justru menistakan kitab sucinya sendiri? Al-Quran: Petunjuk yang Sempurna Pernahkah Anda berjalan di lorong yang gelap gulita? Pastinya Anda tak akan mampu melihat arah lorong tersebut. Tidak nyaman dan Anda pun ragu-ragu dalam melangkah. Bagaimana rasanya bila kemudian tiba-tiba ada cahaya yang menerangi lorong tersebut? Tentu Anda akan merasa bahagia dan lega karena petunjuk arahnya jadi jelas dan Anda pun yakin dalam melangkah. Demikian pula dalam hidup. Saat Anda menjalani hidup di dunia tanpa petunjuk maka gelaplah kehidupan. Sebaliknya, saat petunjuk tersebut jelas maka jelaslah kehidupan. Al-Quran adalah cahaya petunjuk yang menerangi kehidupan yang gelap gulita. Siapa saja yang mengabaikan al-Quran akan terjerumus ke dalam jurang kegelapan dosa. Siapa saja yang berpegang teguh pada al-Quran maka ia akan selalu diliputi cahaya petunjuk dan tidak akan tersesat selamanya. تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ Aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah (al-Quran) dan Sunnahku (HR al-Hakim). Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia dalam semua aspek kehidupan. وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu serta petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89). Faktanya, al-Quran tidak hanya menjelaskan perkara akidah, ibadah, hukum makanan, pakaian dan akhlak. Di dalam al-Quran pun terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang kepemimpinan dan pemerintahan beserta hukum yang wajib diterapkan dalam kehidupan. Juga tentang jihad, harta rampasan perang, sanksi bagi pencuri, pezina dan lain-lain. Lebih jelas lagi, dalam kitab-kitab fikih dibahas mulai bab thaharah, muamalah mâliyyah hingga al-qadhâ` (peradilan), hudûd dan jinâyât, hingga masalah imâmah atau khilafah. Semua itu menunjukkan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Semuanya wajib diterapkan secara kaffah. Tak boleh diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian. Tak boleh pula mengingkari ayat al-Quran karena bisa terjatuh pada kekufuran. Oleh karena itu, sekularisme jelas bertentangan dengan Islam dan harus ditinggalkan. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam pandangan kaum sekuler, agama boleh ada, namun tidak boleh mengatur kehidupan publik, seperti negara, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, keamanan dan berbagai kehidupan lainnya. Agama dibatasi hanya untuk mengatur kehidupan privat, seperti dalam masalah ibadah, moral dan keluarga. Paham sekularisme inilah yang secara faktual berlangsung di negeri ini mulai rezim Orde Lama hingga sekarang. Bahkan kondisi saat ini lebih parah karena yang berlaku adalah sekularisme radikal. Sekularisme radikal betul-betul mengebiri al-Quran. Syariah Islam dijauhkan sama sekali dalam pengaturan urusan publik di negeri ini. Sekularisme radikal bukan sekadar memisahkan agama dari kehidupan, namun sudah pada taraf memusuhi agama. Misalnya pernyataan dari pejabat publik bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama. Jadi, tidak aneh jika dalam Tes Wawasan Kebangsaan ada pertanyaan, “Pilih al-Quran atau Pancasila?” Inilah paham sekularisme radikal. Ketika sekularisme diterapkan maka yang terjadi kerusakan. Sebabnya, menerapkan sekularisme—menyingkirkan agama (Islam) dari kehidupan—adalah dosa dan kemaksiatan. Dosa dan kemaksiatan tentu akan membawa kerusakan. Allah SWT berfirman: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41). Inilah yang sekarang dialami negeri ini. Korupsi semakin menggila. Utang semakin menggunung. Tembus 6500 Triliun rupiah. Pajak diperluas dan dinaikkan sehingga mencekik rakyat. Sumberdaya alam diprivatisasi dan banyak dikuasai asing. Jumlah rakyat miskin semakin banyak. Belum lagi masalah kriminalitas yang semakin meningkat dan lain-lain. Khatimah Wahai umat Islam, berjuanglah terus sekuat tenaga untuk memperjuangkan al-Quran dan syariah Islam agar tegak kembali dalam seluruh aspek kehidupan. Tak boleh mundur sejengkal pun walau apa pun yang terjadi. Dengan perjuangan ini semoga kita mendapatkan pertolongan Allah SWT. Allah SWT akan menolong hamba-Nya jika mereka mau menolong agama-Nya. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin. [] ---*--- Hikmah: Allah SWT berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا - أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا Sungguh orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, juga bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami mengimani sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)," serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan. (TQS an Nisa’ [4]: 150-151). [] ---*-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

*Ngaji Matn Aby Syuja' (Matn al Ghoyah wa at Taqrib) Udlhiyyah 6-Terakhir* قال المؤلف رحمه الله ولا يأكل المضحى شيئاً من الأضحية المنذورة ويأكل من الأضحية المتطوِع بها ولا يبيعُ من الأضحية ويطعم الفقراء والمساكين "Orang yang berqurban tidak boleh memakan sedikitpun dari hewan qurban yang dinadzarkan, dan boleh memakan dari hewan qurban yang disunnahkan, tidak boleh menjual bagian dari hewan qurban dan memberikan makan pada orang-orang fakir dan miskin". *Penjelasan* 💖 Selanjutnya al Muallif menjelaskan tentang distribusi daging qurban. 1️⃣ Apabila hewan qurbannya dinadzarkan maka haram bagi orang yang berqurban dan orang yang wajib dia beri nafkah untuk memakan dagingnya, meski hanya sedikit. 2️⃣ Untuk qurban sunnah, diperbolehkan bagi orang yang berqurban untuk memakannya. 👉 Bahkan disunnahkan untuk memakan sebagian dari daging qurban tersebut untuk mengikuti sunnah Nabi. 💖 Diharamkan bagi seseorang menjual sesuatu dari hewan qurbannya, baik qurban yang dinadzarkan ataupun tidak dinadzarkan. 👉 Termasuk yang tidak boleh dijual adalah kulitnya. 👉 Boleh bagi orang yang berqurban memanfaatkan kulit hewan qurban yang tidak dinadzarkan. Namun yang lebih utama dia menshodaqohkannya dan tidak boleh menjualnya. 👉 Tidak boleh memberikannya sebagai upah orang yang menyembelihnya, karena Nabi melarang para sahabat untuk memberi sesuatu dari qurbannya sebagai upah pada orang yang menyembelih. 👉 Upah orang yang menyembelih diambil dari orang yang berqurban. 👉 Daging qurban disyaratkan dalam pembagiannya berupa daging yang masih mentah, berbeda dengan ‘Aqiqah. 👉 Jika qurban adalah qurban sunnah (tathawwu’), maka daging qurban dapat di bagi tiga bagian yaitu: 1⃣ 1/3 dari daging qurban tersebut adalah untuk orang yang berqurban, namun yang lebih utama bagi orang yang berqurban adalah mensedekahkan semuanya kecuali beberapa suap untuk ber-tabarruk dengan daging qurban. 2⃣1/3 dari daging qurban untuk dihadiahkan kepada kaum muslimin yang kaya dalam bentuk ith’am (pemberian makan) bukan tamlik (memberikan hak kepemilikan) 👉 Sehingga bagi si kaya tersebut tidak diperbolehkan untuk menjual atau menghibahkannya. Berbeda dengan faqir miskin, yang pemberiannya berbentuk tamlik sehingga boleh baginya menjual atau yang lainnya. 3⃣1/3 dari daging qurban disimpan dan di sedekahkan kepada fuqara` dan masakin dari kaum muslimin. 👉 Pembagian daging qurban sunnah terdapat tiga cara yang utama dengan urutan seperti berikut: 1⃣Lebih utama orang yang berqurban mengambil sesuap untuk dimakan, dan seluruh sisa dagingnya disedekahkan. 2⃣ Orang yang berqurban mengambil satu pertiga daripada jumlah daging, satu pertiga lagi disedekahkan kepada fakir miskin dan satu pertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang mampu. 👉 Apabila daging dimasak dan dipanggilkan orang-orang faqir maka itu tidak mencukupi. 👉 Apabila orang fakir diberi selain daging misalnya diberi kulit, sama sekali tidak diberi daging maka itu tidak mencukupi. 👉 Orang fakir yang bisa menerima daging qurban adalah orang fakir yang muslim. 👉 Tidak boleh seseorang berqurban untuk orang lain tanpa dengan izin orang lain tersebut. والله اعلم بالصواب

*IJAZAH AGAR CERDAS, KUAT, INGATAN, MUDAH MENGHAFAL* (Ijazah dari Beliau yang asli hanya surah Al a'la) Kadang suatu ilmu sudah nempel dibenak kita,atau seorang anak susah menghafal, sebentar-sebentar lupa.maka selain di berbagi giat belajar, #AlHabib Ali Al-Habsyi Shohibul Maulid (simthudduror) mengajarkan: Yaitu meletakkan tangan kanan diatas kepala setiap kali selesai sholat sambil membaca ayat Al A'la (sabbihisma) dari awal dan ketika sampai pada ayat: "SANUQRIUKA FALA TANSAA" (Diulang 7 kali dan lanjut hingga selesai surah) Maka insyaallah akan memiliki kemampuan mudah menyerap ilmu, gampang menghafal dan kita atau anak kita menjadi cerdas. AAMIIN YA ALLAH YA ROBBAL'ALAMIIN

*PADA SATU TITIK* Oleh: LACING-POGAG_ Pada satu waktu, kami berkumpul bersama ustaz Nafis, guru ngaji kami. Di awal pembicaraan ada kebiasaan yang saya ingat. Beliau selalu menyampaikan doa agar kita dan keluarga dijaga kesehatannya, dilapangkan rezekinya, serta dikuatkan dalam setiap melewati ujian kehidupan . Ustaz saya mengawali cerita dengan membawakan ilustrasi sederhana, namun sangat mengena di hati kami. Apa itu? Beliau mengatakan waktu di majelis itu sebuah kalimat yang membuat saya cukup sangat merenung. Suatu saat pada satu titik, apa yang harta yang sudah susah payah kita kumpulkan hingga hari ini tidak akan kita bawa setelah kita tiada bahkan tak bisa dititipkan. Anak istri yang kita cintai akan kita tinggalkan. Sahabat yang kini sering berkumpul dengan kita, secara bertahap akan segera melupakan. Tinggal satu yang kita bawa. Itulah amal kebaikan. Bisa berupa amal jariah, doa anak sholeh atau ilmu yang bermanfaat yang telah kita sebarkan. Pertanyaannya, sejauh mana dan sebanyak apa amal kebaikan itu sudah kita persiapkan? Sungguh kesempatan beramal itu hanya saat ini. Saat kita masih di dunia. Saat malaikat maut belum mendatangi kita. Maka beruntunglah seseorang yang meninggal dikala sedang beribadah. Di kala dia sedang mengerjakan amal-amal saleh secara berlimpah. Jika maut tidak pernah kita temukan jadwal kedatangannya. Sudah selayaknya kita mempersiapkan setiap saat . Melakukan perintah, meninggalkan maksiat. Total ibadah tanpa syarat. Tanpa mengeluarkan alasan tapi ataupun nanti. Maka, tak layak bagi kita. Masih bersantai ria dalam hura-hura dan panjang angan-angan. Seolah umur masih panjang, hingga masih enjoy sibuk dengan segala aneka kesenangan yang memperdayakan. Semoga Allah jadikan sisa umur kita mampu meninggalkan banyak amal kebaikan. Hingga Allah ridho dan izinkan kita memasuki surgaNya sebagai balasan. Dari setiap amal kebaikan yang sudah kita tunaikan. Sembari membaca tulisan di atas, mari meresapi untaian lirik lagu saudara Opick dengan judul *“Bila Waktu Tlah Berakhir”* Bagaimana kau merasa bangga Akan dunia yang sementara? Bagaimanakah bila semua Hilang dan pergi meninggalkan dirimu? Bagaimanakah bila saatnya Waktu terhenti tak kau sadari? Masihkah ada jalan bagimu Untuk kembali mengulang ke masa lalu? Dunia dipenuhi dengan hiasan Semua dan segala yang ada Akan kembali pada-Nya Bila waktu telah memanggil Teman sejati hanyalah amal Bila waktu telah terhenti Teman sejati tinggallah sepi...