🔳ADA APA DI HARI TASYRIQ.. Secara etimologi, istilah hari Tasyriq berasal dari literatur Arab “Syaraqa” yang berarti terbit. Namu secara istilah, hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah. Dalam kajian historis, ada dua pendapat yang menjadi asal usul serta  alasan penamaan hari-hari tersebut dengan nama hari Tasyriq. Pertama, dinamakan hari Tasyriq karena umat Islam pada hari itu mengawetkan daging kurban dengan cara menjemur untuk dijadikan dendeng. Tentunya, hal ini erat kaitannya dengan peristiwa sejarah dan corak kehidupan sosial masyarakat Islam pada zaman itu. Kedua, karena ibadah kurban tidak dilakukan kecuali setelah terbitnya matahari.[1] Dalam ranah Islam, hari Tasyriq merupakan bagian dari rangkaian hari raya Idul Adha. Di dalamnya pun terdapat berbagai keutamaan, hukum, serta amaliyah yang berbeda dengan hari-hari besar yang lain. Diantaranya: Keutamaan Hari Tasyriq Allah Swt berfirman dalam Alqur’an: وَاذْكُرُ اللهَ فِيْ أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ “Dan ingatlah kepada Allah dalam beberapa hari yang ditentukan,” (QS. Al-Baqarah:203). Menurut sahabat Ibnu Umar Ra dan pendapat mayoritas ulama, yang dimaksud redaksi “hari-hari yang ditentukan” adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu hari Tasyriq. Sementara menurut sahabat Ibnu Abbas Ra dan Atha’ Ra, yang dimaksud “hari-hari yang ditentukan” itu berjumlah empat hari, yang mencakup hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya.[2] Dari ayat tersebut, secara inplisist Allah swt memberikan keutamaan kepada hari Tasyriq dengan menjadikannya sebagai waktu yang istimewa untuk berdzikir mengingatNya. Sehingga sudah sepatutnya Allah swt memerintahkan kepada umat Islam untuk memperbanyak melakukan dzikir di hari-hari tersebut. Dan salah satu implementasi nyata dari dzikir adalah kesunnahan membaca Takbir Muqayyad[3] ketika selesai salat, mulai salat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai salat Ashar di hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah). Dilarang Berpuasa di Hari Tasyriq Pendapat paling shahih di kalangan ulama Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa hukum berpuasa di hari Tasyriq adalah haram.[4] Salah satu dalil yang menjadi landasan hukum tersebut adalah sabda Rasulullah Saw: أَيَّامُ التَّشْرِيْكِ أّيَّامُ أّكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ “Hari tasyriq adalah hari makan dan minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim).[5] Allah Swt mensyariatkan terhadap umat Islam untuk menjadikan hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum karena hari-hari tersebut masih satu rangkaian dengan hari raya Idul Adha. Namun bukan berarti hal tersebut memberi pemahaman untuk melegalkan bentuk perayaan dengan euforia dan jamuan. Akan tetapi, perayaan hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum memiliki pesan tersirat sebagai upaya syariat dalam membantu mereka untuk semakin giat dalam beribadah mengingat Allah Swt. Karena bentuk syukur paling sempurna atas nikmat yang diberikan adalah dengan semakin giat melakukan ibadah. Memperbanyak Doa di Hari Tasyriq Sudah diketahui, hari Tasyriq merupakan momentum istimewa untuk berdzikir. Dalam berdzikir, ada kaitan yang sangat erat dengan doa. Karena bagaimanapun, doa merupakan salah satu bentuk mengingat dan upaya pendekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Maka dari itu, para ulama salaf sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa selama hari Tasyriq. Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah Al-Qurasyi bahwa beliau pernah mendengar salah sahabat Rasulullah Saw, yakni Abu Musa Al-‘Asyari berkata dalam khutbahnya ketika salat Idul Adha, “Setelah hari raya ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya dengan istilah ‘hari-hari yang ditentukan’. Dan doa pada hari-hari itu tidak akan ditolak. Dengan demikian, perbesarlah harapan kalian”.[6] Wallahu a’lam. Himasal ___________________ ◼️Lisan Al-‘Arab, juz 10 hal 173. ◼️Lathaif Al-Ma’arif, hal 314. Karya Ibnu Rajab Al-hambali. ◼️Takbir Muqayyad secara bacaan sama persis dengan bacaan Takbir Mursal yang dibaca pada malam hari raya. Dinamakan Muqayyad karena masih terikat dengan waktu, yakni setiap selesai shalat selama 5 hari terhitung sejak hari Arafah sampai hari Tasyriq terakhir (9-13 Dzulhijjah). Lihat dalam Al-Hawi Al-Kabir, juz 2 hal 498. ◼️Kifayah Al-Akhyar, juz 1 hal 209. ◼️Shahih Muslim, juz 2 hal 800. ◼️Lathaif Al-Ma’arif, hal 506.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

. --- SYAIR IMAM SYAFI'I --- وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَأَنِّي* وليسَ يزيدُ في الرزقِ العناءُ وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ*ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ إذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ* فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ "Rezekimu tidaklah berkurang lantaran gerak lambat. Tidak pula bertambah lantaran banting tulang. Tak ada kesedihan dan kebahagiaan yang kekal. Demikian pula sengsara dan lapang. Jika engkau memiliki hati qanaah, engkau setara dengan raja dunia.” Kerelaan menerima adalah kuncinya. Semua rezeki makhluk sudah dikadar oleh Allah ta’ala. Jangankan manusia yang memiliki keistimewaan dibandingkan makhluk lainnya, binatang dan tumbuhan pun selalu dicukupi-Nya. Padahal mereka tak punya lumbung makanan, tak punya simpanan rezeki, atau kepastian pada esok hari. Mereka hanya menjalani hidup dengan kerelaan. Demikianlah yang seharusnya dilakukan manusia; qana'ah menerima setelah berusaha. Tak perlu resah-gelisah, karena hal itu justru akan menjadikan jiwa kita semakin tak menentu. Sekali lagi, bersikaplah qana'ah, karena ia menjadikan kita tenteram dalam menjalani kehidupan. Qana'ah menjadikan pikiran jernih dalam menyikapi permasalahan. Qana'ah pula yang menjadikan kita dipenuhi dengan perasaan lapang. *Rela menerima pemberian Allah dan berserah diri kepada-Nya, niscaya derajat kita akan setara dengan raja dunia. Bahkan lebih baik di sisi-Nya.* __kitab: ihya'ulumiddin.

Ibrahim bin Adham lewat di depan seseorang yang sedang bersusah hati.. Ibrahim bin Adham: Aku tanyakan padamu tiga pertanyaan, Jawablah! Ia menjawab: Ya Ibrahim bin Adham: Apakah ada sesuatu yang terjadi di alam ini di luar kehendak Allah? Ia menjawab: Tidak ada Ibrahim bin Adham: Apakah mungkin rezekimu yang telah ditetapkan Allah untukmu bisa berkurang? Ia menjawab: Tidak Ibrahim bin Adham: Apakah mungkin ajalmu yang telah ditetapkan Allah untukmu bisa berkurang? Ia menjawab: Tidak Ibrahim bin Adham: Lantas, mengapa engkau bersedih dan susah hati?! إن حجب الله عنك شيئًا تحبه فلا تحزن ولا تيأس .. فإن عطاءه رحمة ، ومنعه حكمة.. والخير قادم بإذنه. اللهم ارزقنا صبرًا يصاحبه حسن ظن بك يا الله Jika Allah menghalangi suatu yang kamu sukai, maka jangan bersedih dan putus asa. Karena pemberian-Nya adalah kasih sayang, larangan-Nya adalah hikmah, dan kebaikan akan datang dengan izin-Nya Ya Allah, berikan kami karunia berupa kesabaran yang membawa husnuzan pada-Mu ya Allah

HIKMAH PERGAULAN :​ Siapa saja yang SERING DUDUK (BERKUMPUL BERTEMAN BERSAHABAT) bersama 8 kelompok manusia, Maka Allah akan memberinya 8 perkara : ١. من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها 1. Barangsiapa yang sering duduk bersama ​orang-orang kaya​, Allah akan menambahkan kepadanya ​cinta dunia​ dan semangat untuk mendapatkan dunia. *٢. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى* 2. Barangsiapa yang sering duduk bersama ​orang-orang miskin​, Allah akan menambahkan kepadanya ​perasaan syukur & ridha​ atas bembagian Allah. ٣. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب* 3. Barangsiapa yang sering duduk dengan para ​pemimpin/raja (Pejabat)​, Allah akan menambahkan kepadanya perasaan ​sombong dan keras hati.​ ٤. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوة 4. Barangsiapa yang sering duduk dengan ​perempuan,​ Allah akan menambahkan kepadanya ​kebodohan dan syahwat.​ ٥. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح 5. Barangsiapa yang sering duduk dengan ​anak muda/anak-anak kecil​, Allah akan menambahkan kepadanya ​lalai dan senda gurau.​ ٦. ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها، والتسويف في التوبة 6. Barangsiapa yg sering duduk dengan ​orang-orang fasik (gemar bermaksiat),​ Allah akan menambahkan kepadanya ​keberanian berbuat dosa dan kemaksiatan, serta semangat untuk berbuat maksiat, kemudian menunda-nunda akan taubat.​ ٧. ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات* 7. Barangsiapa yang sering duduk dengan ​orang-orang yang sholeh,​ Allah akan menambahkan kepadanya ​kegemaran dalam amalan-amalan ketaatan.​ ٨. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع 8. Barangsiapa yang sering duduk dengan ​para ulama',​ Allah akan menambahkan kepadanya ​ilmu dan sikap sangat berhati-hati dalam mengambil harta dunia (Al Imam Al Ghazali dalam Tanbiihul Ghaafilin)​ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.